1 Jam bersama Manusia
Ini kisahku dan Si pembuat sajak amatiran. Entah apa yang membuat aku, cewek super duper absurd, abnormal, terputus urat malu, dan tersinting satu sekolah dapat bersanding dengan "pesajak spontan", ku sebut ia sebagai pembuat sajak spontan karena ia mampu membuatnya dengan tulisan berasa bukan hanya tulisan berkata, kan sotoy kan bahasaku kan. Sebenarnya aku malu ketika sedang bertemu dia. Aku merasa seperti orang bodoh, sangat amat bodoh sekali banget very very much mwah deh. Kata orang sih grogi, tapi ngga ah, emang akunya yang anu.
"Kakakku bilang, yang ngerti arti dari sajak itu cuma Si pembuat dan orang yang dituju." ucapku sesaat setelah menyeripit secangkir teh hangat.
"Menurut gua, semua orang itu ngerti arti sajak, cuma setelah baca aja bakal beda artinya sesuai pemahamannya masing-masing." tanggapannya sambil menggenggam gaggang cangkir kopi kesukaannya. Kopinya yang dia suka bukan cangkirnya.
"ooohh iya iya, Inshaa Allah ngerti." balasku.
'entah pernah atau tidak ia buatkan aku sajak atau puisi atau semacamnya, yang jelas iya atau tidak pun kemungkinan besar aku tidak akan pernah mengerti maksud isi dan tujuannya. Bahasa sajak kan tinggi menjulang. Bahasa kayak gitu ga pernah aku temukan di kamus Bahasaku.' kalbuku.
Aku kembali sedikit menyeruput air teh yang disuguhkan oleh mas-mas yang jualan, di bangku meja yang memaparkan pemandangan indah puncak Cisarua Bogor. ngga deng cuma Angkringan Jogja biasa hehe.
"Jadi gini, anda ini kan salah satu pesajak yang kenal dekat dengan saya, nah saya ini ditugaskan oleh guru saya untuk membuat tugas yang sulit. Karena saya kira anda ini bisa bantu saya, jadi saya ngomong gini. eh apa sih?" yak, bagus. Tataan bahasa macam apa ini!? Alamat dicap otak dangkal nih.
"coba coba, tarik napas, tahan, buang, tarik, tahan, buang, tarik, buang, tahan. Dah ngomong dah." perintahnya sambil menaik turunkan telapak tangannya di depan dada dan langsung ku ikuti. eh bentar, tarik buang tahan? Gimana napasnya?
"eh gimana jadinya itu? hahaha."
Setelah bernapas-napas ria, kumulai permohonanku dengan memberi sedikit cerita singkat.
"Jadi gini loh pak, Ibu guru Bahasa Indonesia raya merdeka merdeka memberi saya tugas untuk membuat karya tulis berupa sajak atau puisi ber ber ber ber apa ya? ber berfilosofi! ya! Berfilosofi. Anda ini kan seorang yang saya ketahui mampu membuat sajak, saya meminta bapak untuk membantu saya membuat sajak atau puisi tersebut. yayayay mau yay?" pintaku dengan berlagak layaknya putri raja, emang putri raja seh.
"oohh, filosofi. Buat sendiri." Balasnya.
Hah!? Apa-apaan!? Aku minta bantuannya!
"Gini loh, filosofi itu studi mengenai kebijaksanaan, dasar-dasar pengetahuan, dan proses yang digunakan untuk mengembangkan dan merancang pandangan mengenai suatu kehidupan. Filosofi memberi pandangan dan menyatakan secara tidak langsung mengenai sistem kenyakinan dan kepercayaan. Kalo ga percaya cari aja di google, soalnya gua baru aja searching dan artinya itu haha."
Kalian tahu apa yang aku pikirkan setelah mendengar jawabannya. Bukan, aku tidak akan meninggalkannya seperti sepasang pacar yang sedang bertengkar lalu aku lari tertatih-tatih sambil membendung banyak air mata abis itu dia kejar aku abis itu dia tarik tangan aku abis itu dia tahan aku abis itu kita pelukan dan happy ending. Gak. Bukan. Kalian tahu pedang katana? Kalau gatau cari di google sekarang. Ingin rasanya aku betot palanya, ku iket dia di grobak Mas Angkringan Jogja, lalu ku pengal palanya dengan gaya-gaya Ninja Hatori. Untung aku sudah sabar dari kelas 1 SD. Tapi aku hanya manusia yang memiliki perasaan sejak lahir. Kesyel dedek.
"Ngerti ga lu maksudnya? Jadi filosofi itu memiliki isi yang bersangkutan dengan kehidupan. Misal definisi menunggu, Kegiatan yang kan menjemukan. Atau ngga definisi hidup bagai kincir angin di Dufan, kadang di bawah, kadang di tengah, kebawah lagi, ke tengah lagi, ke bawah, ke tengah, abis itu ke atas. Kudu sabar. Anti Faham?" Jelasnya dengan sedikit bercanda berlogat Arab. Tapi lucu kok beybeh wkwk.
"oohh, na'am, ana faham yaa Ustadz. Jadi, aku harus keliling kampung dulu biar mengerti makna filosofi hidup ini. Demi hasil yang memuaskan, agar Ibu guru Bahasa Indonesia terjengkang membacanya dan merasa bangga memiliki anak murid seperti aku, sehingga ia menyeru anak kelas untuk give a applause for meh. Yeah, oh yes!" Ucapku yang kemudian meneguk habis teh yang sudah tidak hangat lagi.
"yee blo on. ga keliling kampung juga kali neng." tenang, sudah biasa.
Satu jam bersama bapak pesajak ini mungkin akan kujadikan bahan untuk tugas sajak berfilosofi nanti. Tapi akan ku cari lagi kata yang pantas untuk mendefinisikan sumringah yang tercipta saat ini. (dia masih muda ya guys, tapi pasti akan jadi bapak dari anak-anaknya kelak, entah berisitri atau ngga yang jelas pasti punya anak).
-Nabila
Marwah
Komentar
Posting Komentar