Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Aku Ga Suka Bulan Ke Empat

Ah. Aku ingat Waktu kaka pinjamkan buku itu untuk aku. Berhari-hari ga dibawa, eh malah aku yang ngacem “kalo ga dibawa lagi pokoknya harus beliin aku permen.” Esoknya kaka bawa buku itu dengan memberikannya sendiri ke kelasku dengan dua buah permen. Ahaha lucunya, sebenarnya buku itu hanya sebuah cara agar aku bisa dekat dengan kaka. Aku juga ingat Ketika semua teman-temanku bersalaman dengan kaka, dan mengapa hanya aku yang digenggam lama, sekitar satu menit setelah kaka bilang “ih tangannya dingin banget.” Disitu aku berterimakasih pada penyakit paru-paru basah ini telah lama menempati tubuhku dari kecil. Didepan teman-temanku tanpa sadar kaka masih menggenggamnya. Aku selalu ingat Ketika kaka lihat keringatku yang berucucur cukup deras saat sedang latihan baris berbaris, kaka pergi ke kantin membeli sebungkus tisu paseo kecil, ah aku ingat merknya, untuk mengelap keringatku secara langsung. Dan ketika yang lain juga memintanya, kaka malah kasih tisu itu ke mer...

I'll be fine

“ Apa yang sering kamu lakukan ketika sedang sendiri? ” Tanya Pembawa acara talkshow salah satu televisi swasta Indonesia. “Berbicara pada tembok.” Jawabku. “Berharap ada yang mendengar?” tanyanya memastikan. “Tidak.” “Hal apa yang sering kamu bicarakan pada tembok?” Tanyanya yang masih penasaran. “Macam-macam sih. Masa lalu, masa depan, masa sekarang, halusinasi.” Jawabku padat, kupikir sudah terjawab. “Lalu apa yang kamu dapat dari berbicara pada tembok? Ia tak dapat mendengar, juga bicara. Sekali pun kamu curhat, apa ia dapat memberi saran dan masukan seperti kebanyakan orang?” Pertanyaan meragukan ini sering kali ia tanyakan. “sebab ia tak dapat mendengar dan bicara, makanya aku pilih tembok untuk menjadi tempat pengungkap rasa. Dia tak akan kasih tau siapa-siapa tentang apa yang aku ceritakan. Aku juga tertuntut untuk selalu berpikir sendiri, seperti ajang mendewasakan diri. Setidaknya tidak merepotkan manusia lain.” Pembawa acara itu tersenyu...

1 Jam bersama Manusia

Ini kisahku dan Si pembuat sajak amatiran. Entah apa yang membuat aku, cewek super duper absurd, abnormal, terputus urat malu, dan tersinting satu sekolah dapat bersanding dengan "pesajak spontan", ku sebut ia sebagai pembuat sajak spontan karena ia mampu membuatnya dengan tulisan berasa bukan hanya tulisan berkata, kan sotoy kan bahasaku kan. Sebenarnya aku malu ketika sedang bertemu dia. Aku merasa seperti orang bodoh, sangat amat bodoh sekali banget very very much mwah deh. Kata orang sih grogi, tapi ngga ah, emang akunya yang anu. "Kakakku bilang, yang ngerti arti dari sajak itu cuma Si pembuat dan orang yang dituju." ucapku sesaat setelah menyeripit secangkir teh hangat. "Menurut gua, semua orang itu ngerti arti sajak, cuma setelah baca aja bakal beda artinya sesuai pemahamannya masing-masing." tanggapannya sambil menggenggam gaggang cangkir kopi kesukaannya. Kopinya yang dia suka bukan cangkirnya. "ooohh iya iya, Inshaa Allah ngerti....

Aw! (one shoot)

Hari ini aku menjalani aktivitas seperti biasa. Ditengah asap-asap dan antrian panjang kendaraan melalui lalu lintas ibukota, aku, rama sang pengendara ojek online masih disini dengan motor dan posisi duduk dimotor yang sama, dengan keadaan masih dengan dua tangan dan dua mata terbelalak yang kadang menjadi sayu ketika sudah waktunya untuk tidur, sedang menunggu orderan dari yang aku sangka jodohku. Sampai saat ini belum juga kutemukan siapa gerangan dirinya yang kan datang padaku. 'ting' Bunyi orderan masuk. Kala itu sudah sore, lelah, aku berniat untuk tidak meng accept orderan ini. Tapi yang namanya rezeki tidak akan datang dua kali jika tuhan tidak mengizinkan, jadi aku accept saja dan kujadikan itu sebagai jemputan terakhirku. Ketika sudah sampai tempat penjemputan, aku, sang pengendara ojek online yang tadi diawal perkenalan, merasa seperti telah mengakhiri penantian panjang. "dia pasti jodohku" ucapku tapi dalam hati. "selamat sore mba, m...

Bagaimana Jika ?

Aku, wanita remaja yang bisa dikatakan sering melawan perintah orang tua, membentaknya, bahkan hampir membuat mereka menitihkan air mata. Ya, karna hal spele. Handphone yang sering ku genggam sampai larut malam hingga tercipta lah pola tidur yang tak normal. Setiap malam seperti itu, setiap malam pula ibu dan ayahku memerintah agar melepas telepon genggam itu untuk menyuruhku istirahat. Tapi apa yang kulakukan? Ya, melawannya dengan berkata "ah! Nanti dulu!". Tepat. Kata kata itu tepat mengenai hatinya. Tapi mengapa mereka tak pernah mendoakanku dengan doa semacam kutukan? Aku tau mereka sakit hati. Lalu mengapa terus kulakukan? Pernah tidak kalian bayangkan, ketika nanti sudah memiliki anak, anak kalian akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kalian lakukan pada orang tua kalian? Ya, akhirnya terlintas di pikiranku bayang bayang seperti itu. Bagaimana jika nanti aku salah mendidik anak? Bagaimana jika nanti setelah memiliki anak, anakku akan lebih keras dari ku...

How Can I ? (one shoot)

Di kesunyian malam pukul 01:30 dini hari, Kamis, 7 Desember 2017. Entah apa yang ada di pikiranku, sehingga aku melakukan sesuatu yang sebenarnya ga salah sih, hanya saja jarang terjadi bagi kalangan perempuan berusia 16 tahun sepertiku. Percakapan via whats app yang aku mulai sendiri dengan pria yang biasa aku panggil ka Rama. "Malam ka, udah tidur belum?" Sapaan yang ku mulai diwaktu yang tidak tepat. Lima menit berlalu tidak ada jawaban, ya mungkin dia sudah terlelap. 'Tiing!' Bunyi notifikasi telepon genggamku. Hopefully sekali bahwa ka Rama lah yang menyebabkan notifikasi telepon genggamku berbunyi. Dan benar saja, ia berhasil menciptakan seringai di bibirku. "Malam, belum kok, ada apa malam-malam begini chat? Kamu belum tidur?" Asli seneng parah, loncat-loncat girang udah kayak setan lontong, mau teriak tapi udah malem, dia benar-benar mambalasku. Baik, Mawar calm down and start it. Harus sesuai skenario awal. Okay mulai. ...

Pretend to Love (one shoot)

"Dont act like you love me! Aku memang bodoh, mengapa aku tidak belajar dari yang terjadi sebelumnya. Dan sekarang terjadi lagi? Aku sungguh bodoh. Saat itu, dia bertanya tentang perasaanku padanya sebelum ia memberi tahu tentang perasaannya padaku, aku bodoh, sangat mudah terbawa perasaan, of course I answer, 'yes, I love you'. And stupidly I believe that he loves me too. Padahal dia hanya menghargai perasaanku. Dan yang lebih bodoh lagi, when you do it again with the same question, I replied with the same answer. Tentu saja aku menjawab ya. Kau seharusnya tau setelah waktu yg sudah lama kita arungi bersama tanpa status yang tertera di buku takdir kau dan aku. Jika kau mencintaiku juga, mengapa kau harus memastikan bahwa aku mencintaimu. Cukup, jangan bicara. Jangan berkata bahwa kau mencintaiku. Jangan jelaskan apa-apa karna aku sudah mengerti. Aku bahagia dengan semua ini, tapi lebih bahagia lagi bila akhirnya bukan seperti ini. Aku tau kau lelah berpura pura. Ak...