Aw! (one shoot)

Hari ini aku menjalani aktivitas seperti biasa. Ditengah asap-asap dan antrian panjang kendaraan melalui lalu lintas ibukota, aku, rama sang pengendara ojek online masih disini dengan motor dan posisi duduk dimotor yang sama, dengan keadaan masih dengan dua tangan dan dua mata terbelalak yang kadang menjadi sayu ketika sudah waktunya untuk tidur, sedang menunggu orderan dari yang aku sangka jodohku. Sampai saat ini belum juga kutemukan siapa gerangan dirinya yang kan datang padaku.

'ting'

Bunyi orderan masuk. Kala itu sudah sore, lelah, aku berniat untuk tidak meng accept orderan ini. Tapi yang namanya rezeki tidak akan datang dua kali jika tuhan tidak mengizinkan, jadi aku accept saja dan kujadikan itu sebagai jemputan terakhirku. Ketika sudah sampai tempat penjemputan, aku, sang pengendara ojek online yang tadi diawal perkenalan, merasa seperti telah mengakhiri penantian panjang.

"dia pasti jodohku" ucapku tapi dalam hati.

"selamat sore mba, mba mawar?" tanyaku memastikan.

"sore, iya mas betul" jawabnya sangat manis seperti kencur pakai gula.

"sesuai aplikasi ya mba" lanjutku tanpa respon darinya.
Aku membangun niat untuk memulai percakapan dengannya, dan itu harus terjadi. Kumulai saja percakapannya biar ga sepi.

"mba, saya ramal nanti saya akan tau rumah mbanya tanpa mba kasih tau" seruku tanpa ragu.

"gimana bisa? Saya ga percaya sama mas, musyrik" bisa bercanda juga doi.

"haha liat aja nanti" balasku. Suatu hari, akan ku buat dia percaya pada semua yang aku ucap dari mulutku, ya, mulutku bukan mulutnya. Jelas, karna aku rama, sang pengendara ojek online.

"sudah sampai tempat tujuan mba, sesuai aplikasi"

"ini mas, makasih ya" ucapnya sambil memberikan helm dan upah antarku.

"benar kata saya kan mba" ucapku memotong satu langkahnya untuk membuka pintu 
gerbang rumahnya.

"benar? Apa?" balasnya.

"saya sudah tau rumah mba tanpa mba kasih tau, jadi mba percaya ga sama saya?"

"haha ga, saya ga percaya, musyrik" katanya sedikit tertawa.

"oke, saya ramal besok sore kita ketemu lagi" ucapku tanpa ragu. Ya, aku harus mangkal disana. Yoi lah.

"saya pamit mba, assalammualaikum jangan?" ucapku.

"ke-dilan-an, assalammualaikum" balasnya.

"waalaikumsalam"

*keesokan harinya*

"Benar kan mba kata saya" ucapku berniat memecah kesunyian ketika sedang berdua dimesin berjalan yang bernama motor, bersama dengan jemputan terakhirku bernama mawar.

"Benar apa ya mas?" Tanyanya sepertinya dia pura pura lupa haha.

"Kita ketemu lagi sore ini. Jadi mba sudah percaya sama saya?" jelasku.

"Haha, Saya masih percaya sama tuhan saya mas, percaya sama mas musyrik" balasnya.
Ditengah perjalanan yang sengaja kubuat lamban agar dapat berlama bersamanya tanpa keluhan darinya, aku tetap memutar otak agar selalu tercipta percakapan singkat dengannya.

"Mba, itu langit" kataku sambil menunjuk kearah langit.

"Ke-dilan-an, ketawa jangan?"

"Ketawa mba, dikit saja saya sudah bersyukur" bisa aja candaannya mba haha.

"Mba, kalo di film dilan, harusnya sekarang milea peluk dilan" ucapku.

"Terus?"

"Peluk."

"Pelukan saya, ciuman saya, pegangan tangan saya, itu yg pertama kali ngerasain harus suami saya, biar eksklusif. Jadi nanti kalo suami saya udah ngerasain mas boleh ngerasain, itu juga kalo saya dibolehin sama suami saya" jawabannya cukup unik.

"Ya sudah kalo gitu saya ga bolehin mba buat peluk orang lain selain saya" balasku.

"Loh kok gitu?" Tanyanya.

"Soalnya nanti saya yang jadi suami mba"

Percakapan itu, benar bukan akhir dari segalanya, akan kulanjutkan sampai ia benar benar memelukku.

~the end~
-Nabila Marwah

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Ga Suka Bulan Ke Empat

How Can I ? (one shoot)

I'll be fine