Bagaimana Jika ?


Aku, wanita remaja yang bisa dikatakan sering melawan perintah orang tua, membentaknya, bahkan hampir membuat mereka menitihkan air mata. Ya, karna hal spele. Handphone yang sering ku genggam sampai larut malam hingga tercipta lah pola tidur yang tak normal. Setiap malam seperti itu, setiap malam pula ibu dan ayahku memerintah agar melepas telepon genggam itu untuk menyuruhku istirahat. Tapi apa yang kulakukan? Ya, melawannya dengan berkata "ah! Nanti dulu!". Tepat. Kata kata itu tepat mengenai hatinya. Tapi mengapa mereka tak pernah mendoakanku dengan doa semacam kutukan? Aku tau mereka sakit hati. Lalu mengapa terus kulakukan? Pernah tidak kalian bayangkan, ketika nanti sudah memiliki anak, anak kalian akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kalian lakukan pada orang tua kalian? Ya, akhirnya terlintas di pikiranku bayang bayang seperti itu.

Bagaimana jika nanti aku salah mendidik anak?
Bagaimana jika nanti setelah memiliki anak, anakku akan lebih keras dari ku?
Bagaimana jika nanti anakku akan lebih memerintah dibanding aku?
Bagaimana jika aku tidak memiliki hati kuat seperti ayah dan ibuku?
Bagaimana jika aku akan salah mengucap doa untuk anak anakku?
Bagaimana jika nanti aku salah mengambil langkah ketika sedang luput dalam amarah karna anak anakku?
Bagaimana jika aku belum sempat memohon ampun pada orang tuaku sedangkan mereka sudah tiada?
Bagaimana jika aku butuh sandaran pundak ayah dan ibu sedang mereka sudah tiada?

Apa yang harus kulakukan? Sedangkan menggali pusara dan mencoba membangunkan mereka berdua saja sangat mustahil untuk mengembalikan hidup mereka.
Apa jadinya hidupku bila harus menghadapi anak yang seumur hidupnya membenci keberadaanku karna sering memerintah?

Sungguh, harusnya dari dulu aku bayangkan ini. Sudah hampir 17 tahun hidup di dunia, tapi setiap hari hanya membangkang orang tua. Ayah, ibu, betapa lembut hatimu sehingga sampai sekarang aku belum jua menjadi batu karna kutukanmu. 17 tahun lamanya, kalian tahan rasa sakit hati itu demi kebahagiaanku, anakmu. Berpuluh juta rupiah kau habiskan hanya demi hidupku, pendidikanku, dan segala kebutuhanku. Pontang panting cari pinjaman sana sini hanya agar tidak terciptanya rengekan yang berasal dari mulutku. Tetapi masih tetap kau penuhi meski kau sudah tau aku akan tetap lakukan itu. Harusnya dari dulu aku bayangkan ini.

Ayah, ibu, maafkan anakmu ini. Bahkan sebelum semuanya terlambat, sebelum semua pertanyaan dari bayangan itu benar benar kutanyakan pada tuhan, aku mohon maafkan aku. Ridhai setiap langkah perjalanan hidupku, maka tuhan senantiasa meridhai langkahku juga. Aku tak mampu mengganti sekian rupiah yang kalian keluarkan. Tapi aku akan meminta pada tuhan agar membantuku untuk menjadi anak yang kalian harapkan ketika aku dilahirkan. Aku akan meminta bantuan tuhan untuk membuat lekuk senyum dari bibir kalian dan tidak lagi mengeluarkan permata berharga dari mata kalian. Aku akan meminta pada tuhan agar setidaknya jika memang derajat kalian rendah dimata manusia, aku dapat meminta derajat tinggi untuk kalian dimata-Nya. Ayah, ibu, kata sayang tidak lah cukup untuk menghapus dosa dosaku pada kalian. Maka maafkanlah aku di sisa usia kalian.

-Nabila Marwah

Komentar

  1. Balasan
    1. Baper sama siapa? Bukan ama gua kan? Wkwk

      Hapus
  2. Feel nya terasa banget :"
    Apa karna gua sering ngelawan ortu ya? :''

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba di inget inget, kalo lu tanya gua, gua mana tau jawabannya

      Hapus
    2. Kok gatau sih wkwk, harus tau lahh

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Ga Suka Bulan Ke Empat

How Can I ? (one shoot)

I'll be fine