Pretend to Love (one shoot)
"Dont act
like you love me! Aku memang bodoh, mengapa aku tidak belajar dari yang
terjadi sebelumnya. Dan sekarang terjadi lagi? Aku sungguh bodoh. Saat itu, dia
bertanya tentang perasaanku padanya sebelum ia memberi tahu tentang perasaannya
padaku, aku bodoh, sangat mudah terbawa perasaan, of course I answer, 'yes, I love you'. And stupidly I
believe that he loves me too. Padahal dia hanya menghargai perasaanku. Dan yang
lebih bodoh lagi, when you do it again with the same question, I replied with
the same answer. Tentu saja aku menjawab ya. Kau seharusnya tau setelah waktu
yg sudah lama kita arungi bersama tanpa status yang tertera di buku takdir kau
dan aku. Jika kau mencintaiku juga, mengapa kau harus memastikan bahwa aku
mencintaimu. Cukup, jangan bicara. Jangan berkata bahwa kau mencintaiku. Jangan
jelaskan apa-apa karna aku sudah mengerti. Aku bahagia dengan semua ini, tapi
lebih bahagia lagi bila akhirnya bukan seperti ini. Aku tau kau lelah berpura
pura. Aku mengerti. Sekarang aku yang memutuskan. Kita sudahi saja semua ini.
Dont say you love me, dont act like you love me."
Air mata dan kata-katanya sudah mewakili bahwa ia
kecewa. Entah apa yang ia pikirkan sebelum ia berbicara yang benar-benar diluar
skenario awal perjalanan. Usahanya menahan bendungan air di matanya gagal agar
terlihat tegar.
"Udah ngomongnya? Percuma. Dengan lo ngomong
banyak kayak tadi ke gua, udah nunjukin kalo lo benar-benar bodoh. Sadar ga? Lo
childish. Apasi yang ada di otak lo. Semua yang lo bilang tentang gua itu
salah. Jangan samain gua dengan masa lalu lo. Gua cukup tau ceritanya. Apa lo
fikir dengan gua tanya perasaan lo ke gua sebelum gua kasih tau perasaan gua ke
lo duluan itu berarti gua juga cuma menghargai perasaan lo? No, you wrong. Gua
manusia sama kayak dia, cuma tingkat percaya diri dan keyakinan gua cukup
rendah asal lo tau. Ga semua pria mampu mengutarakannya tanpa berpikir apa
resikonya. Gua cinta sama lo tulus apa adanya. Gua cuma manusia biasa bukan
tuhan yang udah tahu suratan takdir gua kedepan. Gua pria yang takut di tolak
perempuan. Lo fikir gua cuma menghargai perasaan lo setelah lo bilang 'yes i love you' buat gua? Lo amat
sangat salah dan memang benar-benar bodoh. Gua sangat senang ketika lo bilang ‘yes’. Gua ngerasa cinta gua sempurna.
Diri gua berhasil. Hati gua seperti mendapat pencapaian besar. Gua mencitai lo
tanpa alesan. Banyak pertanyaan di otak gua, kenapa gua sebegitu cintanya sama
lo, tapi nihil gua selalu ga nemu jawabannya. Lo berhasil buat gua bingung
setengah mampus lo tau ga? Kalo setelah gua ngomong gini lo berfikir gua cuma
kasian ngeliat lo nangis, itu baru benar. Ga rela lah gua ngeliat lo tangisin
otak lo yang bego. Udah gausah nangis ah, masih ga percaya? Bukit Sabak ini
yang bakal jadi saksi. Sekarang gua tanya nih yaa, lo mau ga jadi istri
gua?"
Di atas Bukit Sabak Sukabumi, di tengah dinginnya
senja menuju malam, dan kelabunya kabut yang menjadi saksi ketika ketidak
romantisan Rama memberikan sebuah cincin kepada Mawar. Dan hanya dibalas
anggukan haru oleh Mawar dengan air mata yang kali ini adalah air mata bahagia.
'maafin gua,
semua yang lo bilang benar, bahkan semua pertanyaan yang ga gua ketahui jawabannya
itu karna gua memang gua ga punya rasa apapun, hanya sebatas menghargai dan
ngeliat lo begini gua makin ga tega untuk ngelepas lo, tapi mungkin suatu hari
hati ini akan tergetar, thank's for your love, Mawar' kata hati Rama
~The End~
-Nabila Marwah
Aaaa.... Rama. .....
BalasHapusI like him too haha
Hapus