Heart, Hurt
Langit biru di
sore hari masih terlihat, yang sedikit terhalangi oleh kapas putih yang
bertebaran disana. Angin berhembus dengan sangat kencang yang sedikit menusuk
tubuhku hingga kupeluk tubuh dengan tangan sangat erat. Dengan keadaan yang
telah berubah, tapi aku berharap dan akan terus berharap agar semua kembali
seperti sedia kala. Sakit jika mengingatnya. Kucoba untuk sedikit melupakanya.
Tapi, ingatan itu selalu berputar dalam pikiranku hari demi hari. Mungkin untuk
selamanya.
“semuanya telah berubah!”
Hanya
kalimat itu yang sering berputar melewati pikiranku. Entah berapa lama aku akan
bertahan. Bertahan dari semua takdir yang telah dilimpahkan padaku. Aku selalu
bertanya,
Bagaimana
aku akan mati?
Dalam
keadaan apa aku mati?
Selalu
pertanyaan itu yang kutanyakan. Entah pada siapa aku bertanya. Entah siapa yang
akan menjawab. Mungkin aku bertanya pada diriku sendiri. Tapi bagaimana bisa
aku menjawabnya.
Kulihat hari itu tidak berwarna lagi. Semua terasa
gelap. Sangat gelap. Terkadang aku iri dengan pagi hari, yang selalu cerah dan
membuat setiap orang tersenyum. Kadang gelap hanya karna ada hujan. Aku ingin
menjadi pagi yang tidak pernah membuat orang kecewa. Kali ini aku sendiri.
Tidak lagi ada suara tawa. Yang ada hanya duka, kekecewaan, dan sakit hati.
Semua kesalahan tertuju padaku. Semua orang menganggap semua telah berubah,
termasuk diriku. Hanya karena pada satu kesalah pahaman. Mereka bilang
ketiadaan dirinya adalah kesalahanku. Mereka bilang semua telah berubah. Tapi
aku tidak berpikir begitu. Karena kepergiannya bukan alasan untuk merubah
segalanya. Mungkin aku telah berubah. Aku menjadi lebih tertutup. Sangat
tertutup.
Setiap kali aku memikirkannya, ingin sekali kutulis
semua di buku diari seperti orang kebanyakan. Tapi aku mengelak keinginanku
sendiri. Aku tidak ingin mengabadikan semua kesedihanku pada secarik kertas.
Ingin aku mencoba untuk terbuka kembali pada dunia. Tapi apa daya, yang
kulakukan pasti beresiko. Dan sampai sekarang pun semua kenangan pahit itu akan
terus terulang. Sulit untuk menerimanya.menerima semua takdir yang terjadi
padaku. Sebuah pertanyaan baru lagi-lagi datang kepadaku.
Mengapa
semua ini terjadi?
Akan
kuingat selalu meski kucoba untuk terus melupakannya. Semua kejadian itu tak
akan bisa kulupakan. Sejak saat itu aku akan terus seperti ini. Kupercaya
takdir tak mudah untuk diubah. Sejak saat itu pula, kematian ibuku akan selalu
kuingat walau pahit rasanya dan tak akan pernah terlepas dari hidupku.
~the end~
-Nabila Marwah
Komentar
Posting Komentar