Detik Indah di Pulang Sekolah (one shoot)
'Kriiinngg' (3 kali)
Suara yang sangat aku dan semua warga
sekolah suka saat tepat pukul 4 sore. Yup, it's time to go home. Cukup penat yg
kurasa ketika senin sampai jumat yg kulakukan hanya membaca hitam diatas putih,
baik berbentuk kertas maupun papan.
Hari ini hari kamis, sudah biasa jika sore
muka bumi sudah terguyur oleh air yang turun dari langit. Seperti biasa pula,
aku menunggu jemputanku yang nampaknya terjebak macet. Semua orang pasti tahu,
menunggu adalah hal yang sangat membosankan, saat ini yang kulakukan hanya
mengecek telepon genggamku yang jelas-jelas tidak satu pun yang akan
menghubungiku. Entah apa yang harus kulakukan selain melihat banyaknya
kendaraan baik beroda dua maupun beroda empat melewati ruas jalan di depanku.
Andai aku memiliki kekasih yg bisa mengantar dan menjemputku menggunakan moge,
dengan begitu saja aku sudah merasa sangat sempurna. Tapi itu hanya anganku
saja. Haha.
Setelah beberapa lama menunggu di pinggir
jalan sambil meneduh di bawah gardu sekolah, alangkah terkejut nya aku ketika
ada yang menepuk pundak ku, kukira hanya ada aku saja di sini. Perlahan aku
menoleh kebelakang, dan yg kulihat, sesosok pria tinggi putih dengan boomber jacket berwarna hijau army
dan celana bahan hitam dengan tubuh yang
sudah dibasahi oleh air hujan, sukses membuatku membeku sesaat.
"Malaikat darimana
ini?" Ucapku dalam hati.
Dia
hanya menatapku aneh, aku pun menatapnya kagum.
"Dia cukup sempurna
bagiku" ucapku dalam hati sambil sedikit tersenyum.
"Maaf, bolehkah saya
meneduh disini" tanya nya padaku, ya padaku.
"Wah! Boleh banget,
boleh banget, serius gapapa kaa, mas, pak, bang, eh aduuhh gimana nihh?" Jawabanku
terlihat seperti orang bodoh.
"Hahaha,
kamu lucu jugaa" seru nyaa
seraya memujiku.
Yup, dingin, hanya kami berdua dan sangat
canggung, tapi bukannya orang yang baru bertemu memang canggung, tapi aku
gamau, aku harus memulai percakapan. Tapi mulai dari mana.
"Mas, pak, ka, bang aduh
saya manggil nya apa yaa?"
Kata ku cukup gugup
"Ka ajaa gapapa" jawab nya.
"Oh okee, ka abis
keujanan?" Yak!
Bodoh! Kenapa pertanyaan itu yg kutanyakan.
"Iyaa" jawabnya singkat.
"Oh gitu, naik motor
atau gimana? Kok bisa keujanan?"
Kali ini aku cukup pintar.
"Tadi saya dari tempat
kerja, jauh dari sini, terus di tengah macet tiba tiba hujan, saya ga nemu
tempat berteduh yang sepi, yaudah saya tetep jalan aja, eh saya liat gardu sepi
yaudah saya berenti. Oh iya tadi pertanyaan kamu belom saya jawab, saya naik
motor. Kenapa malah jadi cerita ya" jawab nya. Asik juga nih orang.
"Haha oh gitu" balasku.
"Nanya apa lagi nih aduh
pusing" ucapku dalam
hati.
"Kamu ngapain sore sore
masih disini? Nunggu jemputan?"
Tanya nya yg memecahkan suasana kecanggungan. Alhamdulillah..
"Oh, aku disini nunggu
jemputan, jemputanku kejebak macet, ini biasa kalo ujan emang gini, makanya
bete banget tiap hari nunggu sendirian mulu" jawabku sedikit memberi kode.
"Oh, berarti saya tepat
dong ya datang haha, memang jemputannya masih jauh?" Tanya nya.
"Iyaa masih, katanya sih
baru keluar tol, kira kira satu jam an lagi sampe" jawabku.
"Masih lama banget dong
ya. Gimana kalau hujan nya sudah reda saya anter kamu pulang, maaf lancang tapi
saya hanya kasian melihat kamu harus menunggu satu jam disini, saya orang baik,
saya janji gabakal ngapa ngapain kamu" ucapnya sangat meyakinkanku.
"Hmm gimana yaa, baru
kenal juga" balasku.
"Saya maklum kalau kamu
gamau, saya hanya menawarkan. Itu motor saya" katanya sambil menunjuk ke arah motor,
moge nyaa? Wah! Ini yg disebut impian jadi nyata.
"Hmm sebenernya masih
banyak yg harus aku kerjakan dirumah, kalau harus nunggu lama bakal lembur
semaleman nih, jadii yaudh deh, tapi kaka janji harus bersikap baik ke
saya" putusku.
"Aahh soal itu pasti
saya gabakal ngapa ngapain kamu, saya janji" balasnya.
Baru ketemu saja sudah buat janji, apalagi,
ah sudah lah. Setelah hujan reda, kukabarkan jemputanku dulu sebelum aku
diantar oleh kaka ini, tapi aku belum tau namanya, ah gampang lah. Saat sudah
tiba tepat di depan gerbang depan rumahku, tentunya aku ucapkan terimakasih
padanya. Setelah dia pergi, aku baru ingat, aku lupa menanyakan nama dan nomor
telpon nya. Astaga. Ini bodoh. Kuharap besok hujan, dan jemputanku terjebak
macet lagi. Aamiin..
Keesokan
Harinya
Yup, tepat hari ini, jumat. Cuaca telihat
sangat cerah, kemungkinan besar tidak akan hujan. Pupus harapanku untuk bertemu
dengannya kembali. Mungkin senin.
Sudah tiga hari cuaca yang kuharapkan tidak
datang kembali membawa kelanjutan ceritaku. Mustahil memang jika mengharapkan
pria yang bagiku cukup sempurna itu meneduh di bawah gardu sekolahku, tapi apa
salahnya aku bermimpi. Sudah kupastikan hari ini tidak akan turun hujan.
Kamis, ya, aku yakin hari ini hujan. Aku
terus menunggu suara favorit ku berbunyi.
'kriiinngg'
(3 kali).
Ini
dia, kulihat cuaca memang sangat kelabu. Ku bergegas menuju gardu sekolah,
walau memang keadaan sekolah masih sangat ramai, tapi aku akan tetap menunggu
seseorang yang benar-benar baru sekali aku temui. Waktu terus berjalan, saat
ini sudah pukul 5 lebih 30 sore dengan keadaan hujan yang bisa dibilang cukup
deras. Tapi mengapa pria itu tidak kunjung datang. Sampai jemputanku pun
datang. Aku menyerah untuk hari ini. Aku akan tetap menunggu untuk esok hari.
Hari demi hari telah kulewati, minggu demi
minggu pun pasti kutunggu. Aku hampir menyerah, hampir putus asa. Kamis ini
seperti kamis kamis pada biasanya. Tapi kuputuskan jika hari ini pria itu tak
kunjung datang, maka hari ini adalah hari kamis terakhirku untuk menunggunya.
Sudah hampir satu setengah jam aku menunggu, sudah kuduga dia pasti tak akan
datang. Aku menyerah. Mengapa aku sungguh bodoh? Mengapa aku bermimpi seolah
dialah pria sempurnaku. Sungguh pahit rasanya berharap kepada manusia. Baik.
Aku benar benar menyerah.
Satu
minggu kemudian..
Tidak, hari ini memang hari kamis. Tapi
sungguh aku benar benar tidak mengharapkan apa apa. Kali ini aku pun tidak sama
sekali mengharapkan datangnya hujan. Tidak, bukannya aku membenci hujan, tapi
aku hanya tidak mengharapkannya datang untuk hari ini. Tapi tuhan benar benar
adil. Hari ini hujan, dan jemputanku terjebak macet, aku pikir aku sangat sial.
Aku kembali seperti aku sebelum bertemu dengan pria itu.
'huuuffftt'
suara helaan nafasku.
Tatkala
kusandarkan kepalaku ke dinding gardu dengan posisi berdiri, dengan mata yang
kupejamkan. Aku sangat penat, aku lelah. Tetapi, aku mendengar suara itu, suara
mesin yang berat dan perlahan berhenti. Aku tidak mampu membuka mataku, aku
sudah memutuskan untuk tidak berharap kembali, aku tahu itu mustahil.
"Maaf,
boleh saya meneduh disini lagi?" Ucapnya dengan suara yg berat.
Ini
aneh, saat kubuka mataku, aku merasa, penatku, lelahku, waktu yg kuhabiskan
untuk menunggu, terbayar sudah di sore ini. Tidak akan kuulangi kebodohanku,
aku tidak mau menyesal lagi. Dan terlintas dipikiranku, akan kulanjutkan cerita
ini, dengan tidak sendiri.
~The
end~
-Nabila Marwah
Ya kenapa harus gua baca ya
BalasHapusbaca yang laen juga ya
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMantap wa lanjutkan
BalasHapusone shoot hamca, baca yang laen juga tuh wkwk
Hapuskasih tau temen temen kaka, baca yang lain juga ka
BalasHapuseh bagussss
BalasHapusEh makasih ehehe
HapusCem imagine gua bacanya kan :"
BalasHapusEmg tujuannya gitu
HapusInspirasiku layaknya sebuah kuku dalam menulis sajak ❤❤
BalasHapusIDOLA!!
Bagus , baper๐ ๐ jadi ada niatan pengen ujan ujanan di sekolah
BalasHapuswahaha terimakasih..
Hapus